Rabu, 26 Oktober 2011

sebuah pengalaman menarik tentang sebuah panggung sandiwara, dan saya terjebak dalam sandiwara itu hingga saya meremehkan orang.

Dalam kehidupan sehari-hari mkadang-kadang ada sebuah lelucon, yah memang karena tanpa lelucon hidup ini hambar. ibarat masakan tanpa bumbu, hambar rasanya. Sebuah lelucon atau plesetan yang membuat kita terkenang kenang atau dalam istilahnya ter record dalam memori kita. Sebagai sebuah contoh misalnya "irit banget nih orang, padahal dia sedang haus" sampai menyiksa dirinya sendiri. Sehingga timbul cemoohan. habis dapat uang banyak beli air aja gga mau. Yah kalau menurut analisa saya apakah itu sebuah cemoohan yang pantas dilontarkan. contoh lain "seseorang berambut botak" kemudian ada komentar "irit banget nih orang, untuk cukur aja bisa enam bulan sekali yah kadang kadang lelucon seperti itu terrecord dalam memori kita. Sehingga kita terbuai oleh lelucon itu. lelucon murahan, selera humor yang rendah. sehingga kita terpengaruhi oleh lelucon itu. Tanpa disadari cemoohan atau lelucon itu membuat kita jadi ikut-ikutan mencemooh. Semua yang terjadi membuat saya besar kepala. Ternyata orang-orang yang saya cemoohkan sekarang menjadi orang yang sukses.... Saya menyesali perbuatan saya dan saya berjanji tidak akan mencemoohkan orang lagi. dan saya tidak akan mematahkan potensi orang. Sebuah pengalaman berharga yang harus dicatat dalam pikiran, mencerna perkataan, mengolah daya pikir, itu semua harus dilaksanakan bukan Allah menciptakan otak untuk berpikir?































'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar