Jumat, 14 Oktober 2011
Pola hidup konsumtif yang menjerumuskan.
Di malam ini pukul 21.00 tanggal 14 Oktober 2011. Tak terasa sudah 12 tahun ku abdikan diri di perum Peruri. Setelah beberapa tahun terbius oleh gemerlap kehidupan konsumtif. Bukannya tidak mensyukuri apa yang telah di raih. Tetapi saya merasa telah kehilangan momen selama 12 tahun yang terlewati. Kalau di hitung pendapatan yang ku terima selama 12 tahun, kalau tidak boros, mungkin sekarang sudah mulai merasakan buahnya. Terlalu bodoh diri ini hanya untuk mengikuti hawa nafsu, status gaya hidup, rela mengorbankan penghasilan jerih payah yang di dapat. Di dalam kehidupan ini, harus banyak berpikir dan bersyukur. Berpikir dalam arti, setelah uang yang di peroleh akan di kemanakan? apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsu, atau kebutuhan pokok. Disinilah kita perlu berpikir agar lebih selektif dalam membelanjakan uang, dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hemat bukan berarti pelit, hemat artinya kita selektif dalam membelanjakan uang, tidak terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif, lebih mementingkan kebutuhan pokok. Mungkin saja kalau dari 12 tahun yang lalu saya disiplin dalam penggunaan uang, saya sekarang sudah jadi pengusaha. Penyesalan memang selalu di akhir. Bersyukur disini dalam pengertian merasa tercukupi kebutuhannya. Kadang-kadang kalau sugesti perasaan kita selalu kurang, dan kurang maka seperti itu pula lah kehidupan yang kita jalani. Kaya itu bermula dari pikiran, kalau pikiran kita merasa tercukupi, dan bersyukur apa yang telah diperoleh selama kita hidup. Bukankah Allah SWT menurut persangkaan hambanya? Pengalaman menarik dan menggugah motivasi saya... Suatu malam badan saya terasa pegal-pegal, kebetulan tukang pijit keliling lewat, kemudian saya memanggilnya "mang saya mau pijit" Ternyata setelah saya perhatikan tukang pijit ini menyandang tuna netra. Saya mengawali pembicaraan dengan si tukang pijit, tinggal dimana? dapat penghasilan rata-rata berapa per hari? sudah punya anak berapa? dan pertanyaan lainya untuk mencairkan suasana. Saya merasa terharu mendengar ceritanya yang kadang kadang ia ditipu dengan pembayaran yang sedikit, modusnya pembayaran di bayar dengan uang ribuan yang banyak jumlahnya, tetapi kalau di total tetap sedikit. maklum tukang pijit ini menyandang tuna netra. Saya kemudian bertanya lagi kepada tukang pijit "apa nggak kapok jadi tukang pijit kalau di bayar sedikit?" kemudian dia menjawab "yah memang ini yang hanya saya bisa, mau kerja apa lagi?" Saya merasa bangga akan motivasi orang ini walaupun tuna netra semangat untuk mencari nafkahnya tak pernah padam, hanya dengan bantuan tongkat, ia berkeliling mencari uang, walau kadang ia tertipu dengan bayaran yang sangat minim. Keadaannya yang cacat tidak membuatnya patah semangat. Terus terang saja, saya merasa jijik bila melihat pengemis yang fisiknya masih bagus dibanding tuna netra si tukang pijit. Badai krisis moneter yang telah berlalu memang masih terasa dampaknya sampai sekarang. Saya secara pribadi merasa malu dengan kinerja tuna netra ini. Saya yang masih bisa melihat, mendengar, dan semua panca indera yang saya miliki berfungsi dengan baik, tetapi tidak memaksimalkan potensi yang telah diberikan sang pencipta. Ampuni hamba ....ya Rabb Berikan kekuatan kepada hamba untuk mensyukuri nikmmat yang telah kau berikan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar